BPBD Bojonegoro, Bertempat di Lantai 7 Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Kamis (16/7) pagi tadi dilaksanakan diskusi terfokus penyusunan dokumen rencana kontingensi bencana cuaca ekstrem Kabupaten Bojonegoro Tahun 2026.
Acara tersebut dihadiri Bupati Bojonegoro Bapak H. Setyo Wahono, S.E yang sekaligus membuka acara. Dalam sambutannya Bupati Bojonegoro menyampaikan bahwa Secara geografis, Kabupaten Bojonegoro yang memiliki luas wilayah kurang lebih 2.311,25 kilometer persegi dengan 28 kecamatan ini, sebagian besar kawasannya berada di dataran rendah DAS Bengawan Solo Hilir. Dengan karakteristik iklim tropis monsunal, wilayah kita memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap ancaman hidrometeorologi, khususnya fenomena cuaca ekstrem.
Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta historis. Data mencatat bahwa sepanjang periode tahun 2018 hingga 2025 saja, Bojonegoro telah dihantam sebanyak 569 kali kejadian cuaca ekstrem. Artinya, rata-rata setiap tahun masyarakat kita harus menghadapi puluhan kejadian bencana hidrometeorologi yang merusak rumah, fasilitas umum, jaringan listrik, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Hujan lebat yang disertai angin kencang dan puting beliung telah menimbulkan kerusakan nyata, mulai dari kerusakan pemukiman warga, putusnya jaringan listrik, kerusakan fasilitas publik, hingga ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa masyarakat. Kenyataan ini menegaskan bahwa bencana cuaca ekstrem bukan lagi ancaman yang samar, melainkan sebuah kepastian yang menuntut kesiapsiagaan penuh dari kita semua.
Acara ini menghadirkan narasumber antara lain Direktorat Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pelana Indonesia sebagai Fasilitator. BMKG Kabupaten Tuban. Peserta antara lain Polres Bojonegoro, Kodim 0813, Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Bojonegoro, Agen Bencana Provinsi Jawa Timur dan Basarnas Surabaya di Bojonegoro.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
50 % |
Puas
17 % |
Cukup Puas
17 % |
Tidak Puas
17 % |